Daulah Ayyubiyah
Daulah Ayyubiyah
Sejarah Berdirinya dan Perkembangan Peradaban
Daulah Ayyubiyah merupakan Daulah islam yang didirikan oleh seorang panglima perang bernama Shalahuddin al-Ayyubi. Daulah Ayyubiyah berkuasa di Mesir dan merupakan Daulah yang beraliran Sunni. Daulah ini berdiri pada abad ke 12 M, yang mana pada saat itu kekuasaan Daulah Abbasiyah sedang berlangsung. Sejarah berdirinya Daulah Ayyubiyah sendiri masih ada sangkut-pautnya dengan Daulah Abbasiyah dan Daulah Fatimiyyah, yakni berawal dari ketika Daulah Abbasiyah mulai mengalami kelemahannya di periode kedua pemerintahan.
A. Kemunduruan Daulah Abbasiyah
Daulah Abbasiyah merupakan Daulah yang bertahta selama 5 abad. Daulah ini merupakan Daulah yang terkenal dalam Islam. Karena pada masa kekuasaannya, era kejayaan dan keemasan Islam tercapai. Namun, kejayaan tersebut mulai meredup pada periode kedua kekhalifahan Daulah Abbasiyah yakni di tahun 847 M. Diantara penyebab melemahnya Daulah Abbasiyah pada periode kedua yaitu karena adanya dominasi tentara bayaran dari Turki yang mendapatkan jabatan penting pada pemerintahan Abbasiyah, kemudian menyebabkan kemerosotan ekonomi, serta lemahnya kekuatan militer pribumi Abbasiyah. Dari sinilah muncul permasalahan kesulitan keuangan, dan pada akhirnya dijadikan kesempatan bagi daulah-daulah kecil yang awalnya tergabung dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah akhirnya melepaskan diri.
Daulah-daulah kecil tersebut diantaranya:
- Daulah Idrisiyah di Maroko
- Daulah Aghlabiyah di Tunisia
- Daulah Thuluniyah di Mesir
- Daulah Ikhsidiyah di Mesir
- Daulah Hamdaniyah di Aleppo dan Mosul
- Daulah Thahiriyah di Khurasan
B. Berdirinya Daulah Fatimiyyah
Daulah Fatimiyyah merupakan Daulah besar yang beraliran Syi'ah (pendukung Ali bi Abi Thalib). Selain Daulah Fatimiyyah, ada pula daulah Syi'ah lainnya, yaitu Daulah Syafawiyah. Penamaan Daulah Fatimiyyah ini disandarkan kepada nama Fatimah Az-Zahra yang merupakan istri Ali bin Abi Thalib atau putri Rasulullah SAW.
Setelah kaum Alawiyin (Kaum yang mengklaim bahwa mereka keturunan Ali) telah menaklukkan Daulah Aghlabiyah di Tunisia (salah satu daulah kecil yang melepaskan diri dari Daulah Abbasiyah), berdirilah Daulah Fatimiyyah dengan khalifah pertamanya Ubaidillah al-Mahdi.
Daulah Fatimiyyah menempatkan pusat pemerintahan/Ibu Kota di Kota Qairawan, Tunisia. Kemudia dipindahkan ke Kairo, Mesir, sebuah kota megah yang dibangun oleh Jauhar as-Siqli yang merupakan jenderal muslim Syi'ah dari Dinasti Fatimiyyah.
Daulah ini berkuasa selama 3 abar atau 262 tahun, yaitu dari tahun 909-1171 M dengan khalifah terkenalnya Abu manshur Nizar al-Aziz dan al-Muidz Li Dinillah, serta khalifah terakhirnya yaitu al-Adid Billah
C. Berdirinya Daulah Ayyubiyah
Kisah berdirinya Daulah Ayyubiyah tidak dapat terpisahkan oleh keberadaan Daulah Fatimiyyah. Hal ini dikarenakan peristiwa hancurnya Daulah Fatimiyyah merupakan awal dari sejarah berdirinya Daulah Ayyubiyah. Kisah ini berawal ketika Daulah fatimiyyah berada di bawah kekuasaan khalifah al-Adid Billah yang merupakan khalifah terakhir Daulah Fatimiyyah. Pada sat itu, Daulah fatimiyyah mengalami kemundura. Banyak sekali permasalahan yang datang, yaitu pemerintahan yang lemah, musim paceklik, serbuan tentara Salib ke Mesir, dan adanya konflik internal Daulah Fatimiyyah.
Khalifah al-Adid Billah yang merupakan pemimpin Daulah Fatimiyyah kala itu merasa tidak mampu menangani permasalahan-permasalahan tersebut. Sehingga beliau meminta bantuan kepada Gubernur Syiria, yakni Nuruddin Zanki untuk mengirimkan seseorang yang bisa membantunya. Akhirnya, Nuruddin Zanki mengutus panglima perang bernama Asaduddin Syirkuh (paman Shalahuddin) dan Shalahuddin al-Ayyubi untuk pergi ke Mesir beserta pasukan perangnya untuk mengusir tentara Salib. Sesampainya di Mesir, peperangan pun berlangsung. Pada saat itu pula, didapati berita bahwa ada persekongkolan antara perdana menteri Daulah Fatimiyyah yang bernama Syawar dengan pasukan Salib, yang tidak lain adalah musuh Daulah Fatimiyyah. Sehingga Syawar harus disingkirkan karena membahayakan pemerintahan Fatimiyyah. Kemudian, posisinya sebagai perdana menteri digantikan oleh Asaduddin Syirkuh.
Namun, Asaduddin Syirkuh menjabat sebagai perdana menteri hanya selama dua bulan. Kemudian ia wafat dan posisinya digantikan oleh keponakannya, yaitu Shalahuddin al-Ayyubi. Dari sinilah awal mula Shalahuddin al-Ayyubi memiliki kedudukan di pemerintahan Daulah Fatimiyyah.
Rakyat Mesir menyukai adanya Shalahuddin di pemerintahan Daulah Fatimiyyah. Keberadaannya semakin kuat, karena Shalahuddin merupakan seseorang yang beraliran Sunni, seperti halnya rakyat Mesir. Ketika khalifah al-Adid Billah jatuh sakit, saat itulah ia mendapatkan dukungan penuh masyarakat Mesir. Hingga akhirnya, bertepatan pada tanggal 10 Muharram 1171 M khalifah al-Adid Billah wafat yang berarti menandakan berakhirnya Daulah Fatimiyyah dan menjadi awal berdirinya Daulah Ayyubiyah dengan khalifah pertamanya yaitu Shalahuddin al-Ayyubi.
Akan tetapi, DAulah Ayyubiyah baru diakui secara resmi pada tahun 1174 M. Hal ini dikarenakan keluarga Shalahuddin merupakan seseorang yang mengabdi penuh kepada Nuruddin Zanki (Gubernur Syiria, anak Imaduddin Zanki) di kerajaan Zankia. Sejak kecil ia tinggal di kerajaan tersebut. Ia mendapatkan pendidikan umum, pendidikan agama (sunni), latihan militer, dan sebagainya dari kerajaan tersebut. Sehingga pada saat ia memproklamasikan berdirinya Daulah Ayyubiyah, ia tidak dapat serta merta langsung menjadi khalifah. Karena pada saat itu ia masih berada di bawah kekuasaan Nuruddin Zanki. Pada akhirnya, di tahun 1174 M, Nuruddin Zanki wafat karena sakit, dan saat itulah Daulah Ayyubiyah secara resmi diakui sebagai daulah.
D. Perkembangan Peradaban Daulah Ayyubiyah
Perkembangan Peradaban masa Daulah Ayyubiyah tidaklah begitu pesat jika dibandingkan dengan masa kekuasaan Daulah Abbasiyah. Hal ini dikarenakan masa berdirinya yang lebih singkat dibanding Daulah Abbasiyah, yakni hanya selama 74 tahun. Disisi lain juga karena selama berkuasa, daulah ini berfokus pada peperangan melawan tentara Salib. Namun, meskipun tidak banyak perkembangan peradaban yang dicetak, DAulah Ayyubiyah tetap memiliki corak dan ciri khas peninggalan sejarah yang luar biasa.
1. Kemajuan Pendidikan
a) Madrasah
Daulah Ayyubiyah telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota pendidikan. Daulah Ayyubiyah mendirikan madrasah sebagai sekolah pertama di Damaskus yang difokuskan untuk pengembangan ilmu hadits. Madrasah yang dibangun merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masjid atau disebut sebagai sekolah masjid. Selain di Damaskus, terdapat pula madrasah yang terkemuka dan terbesar di Kairo, yaitu Madrasah as-Shalahiyah yang didirikan oleh Shalahuddin al-Ayyubi.
b) Kedokteran
Pembangunan dan pengadaan fasilitas kesehatan untuk rakyat berupa rumah sakit terus mengalami pembenahan. Terdapat rumah sakit al-Nuriyah, yang merupakan rumah sakit kedua di Damaskus setelah rumah sakit al-Walid. Kedua rumah sakit ini selain berfungsi sebagai tempat pengobatan, juga berfungsi sebagai sekolah kedokteran. Hingga saat ini rumah sakit al-Nuriyah masih ada. Namun dialihfungsikan sebagai museum kedokteran.
Selain itu, Shalahuddin al-Ayyubi juga membangun dua rumah sakit di kairo, yang memiliki fungsi sama seperti rumah sakit al-Nuriyah dan rumah sakit al-Walid.
c) Arsitek dan Khat
Pada monumen-monumen, Daulah Ayyubiyah juga menorehkan seni menulis yang indah. Prasasti tersebut menjadi daya tarik para ahli paleografi Arab. Sejak saat itu, diperkirakan seni kaligrafi (khat) arab gaya kufi muncul berkembang. Kaligrafi gaya kufi kemudian diperbaharui dan melahirkan gaya kaligrafi naskhi.
Khat kufi (id.pinterest.om)
Khat kufi (callidesign.blogspot.com)
Khat naskhi (fath.mutimedia.blogspot.com)
2. Kemajuan Ekonomi Perdagangan
Daulah Ayyubiyah melakukan kerja sama dengan penguasa muslim di wilayah lain, menjalin hubungan perdagangan dengan kota-kota di laut Tengah, lautan Hindia, dan menyempurnakan sistem perpajakan. Pada saat itu hubungan internasional dalam perdagangan baik jalur laut maupun jalur darat semakin ramai.
Saat itu pula, dunia ekonomi dan perdagangan sudah menggunakan sistem kredit, bank termasuk Letter of Credit, juga telah ada uang yang terbuat dari emas.pada bidang ekonomi ini juga telah dimulai percetakan mata uang dirham campuran (fulus), yang dimulai oleh Sultan Muhammad al-Kamil ibn al-Adil al-Ayyubi. Selain itu, pada bidang industri juga telah dibangun sebuah kincir angin oleh seorang Syiria yang lebih canggih dari orang barat.
Mata uang Daulah Ayyubiyah (id.wikipedia.org)
3. Kemajuan Militer dan Sistem Pertahanan
Pada masa pemerintahan Shalahuddin, kekuatan militernya terkenal sangat tangguh. Pasukannya diperkuat oleh pasukan Barbar, Turki, dan Afrika. Mereka memiliki alat perang, pasukan berkuda, pedang, dan panah, serta memiliki burung elang sebagai kepala burung-burung dalam peperangan.
Shalahuddin juga membangun benteng di Kairo, yaitu di atas bukit Muqattam yang bernama Qa'lal jabal atau benteng Shalahuddin al-ayyubi. Alasan dibangunnya benteng ini adalah tidak lain untuk menghadapi serangan tentara Salib. Sedangkan alasan mengapa dibangun diatas bukit Muqattam adalah karena di atas bukit tersebut masih minim polusi dan masih sedikit terhuni bakteri.
Pada benteng ini, terdapat beberapa pintu utama, yaitu pintu Fath, pintu Nasr, pintu Khalk, dan pintu Luq. Terdapat saluran air berasal dari sungai Nil, yang menjadi bekal para tentara. Pada kawasan benteng ini terdapat pula muzium polis, qasrul jawhara (museum permata), dan mathaf al-fan al-islami (museum kesenian Islam)
Benteng Shalahuddin al-Ayyubi (retizen.replubika.co.id)
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Mesir dan daerah lainnya pada sektor pertanian, Daulah Ayyubiyah telah menggunakan sistem irigasi, pembangunan waduk, dan bendungan, serta terusan untuk mengairi kebun dan pertanian. Dengan sistem irigasi seperti ini, hasil panen masyarakat menjadi melimpah, seperti kurma, gandum, dan gula.
Sektor pertanian masa Daulah Ayyubiyah terkenal sangat maju. Pemerintah sangat perhatian dalam pengembangan sektor ini. Hal ini tidak lain adalah karena sektor pertanian merupakan penyumbang dana terbesar dalam peperangan Salib, yang tentunya membutuhkan biaya yang besar, baik untuk bekal tentara, latihan militer, dan pengadaan alat-alat perang.
Penulis: Novia



.jpeg)





Comments
Post a Comment